Al Mahfudhoot (Part 2)


Barang Siapa berjalan pada jalurnya, maka ia akan sampai

Barang Siapa berjalan pada jalurnya, maka ia akan sampai

Kata وَصَلَ yang berarti sampai, sampai di sini maksudnya adalah sampai pada sebuah tujuan dan cita-cita atau angan-angan. Sebagai seorang manusia, apa yang menjadi tujuan hidup kita? Pastilah jawabannya Kebahagiaan Dunia dan Akherat (iya apa iya? Pasti iya…). Kebahagiaan Akherat pastinya sudah jelas, taat melakukan perintah Allah dan menjauhi larangannya, tapi bagaimana dengan kebahagiaan dunia? Apakah cukup hanya dengan harta yang melimpah dan jabatan yang tinggi? Ataukah cukup hanya dengan cinta dan kasih sayang?

Alkisah seorang pemuda dari keluarga yang serba kekurangan mengadu peruntungan di sebuah kota besar untuk merubah garis nasib yang menurutnya suram. Pemuda tadi dengan gigihnya keluar-masuk perusahaan berharap ada satu perusahaan yang bisa menerimanya bekerja, setelah beberapa jam berkeliling, iapun sampai pada sebuah perusahaan yang bersedia menerimanya bekerja sebagai operator dengan gaji Rp. 1,3 juta rb/bulan, betapa girangnya pemuda itu dengan kenyataan yang ia terima, maka pada keesokan harinya dengan penuh semangat ia berangkat bekerja.

Setelah sebulan bekerja, iapun menerima gajinya yang pertama, “akhirnya aku mampu menghasilkan uang dengan jerih payahku” batinnya. Pemuda tersebut semakin semangat bekerja dengan penuh ketekunan dan disiplin. Tak terasa sudah 3 tahun ia mengabdi di perusahaan tempat ia bekerja tanpa pernah sekalipun mendapatkan catatan prestasi yang buruk, demi melihat dedikasi, semangat serta kedisiplinan si pemuda, atasannyapun tak segan mempromosikan dirinya sebagai Leader.

Mendapatkan promosi yang tak pernah ia bayangkan akan secepat itu, pemuda itupun sangat senang dan berjanji akan menunjukkan kinerja yang lebih dari sebelumnya.

Sampai pada suatu hari, seorang adiknya lulus sekolah dan ingin bekerja dan pemuda itupun memasukkan adiknya tanpa tes masuk karyawan di perusahaan tempat ia bekerja, “yah…hitung-hitung mewujudkan cita-cita dan angan-angan saya untuk meningkatkan ekonomi keluarga walaupun dengan jalan pintas” pikirnya. Tak hanya sampai di situ, si pemuda juga memanfaatkan jabatannya sebagai Pemimpin untuk mewujudkan ambisinya, yang ada di benaknya adalah bagaimana caranya saya bisa hidup bahagia dengan harta yang berlimpah.

Sampai pada suatu ketika, ia dipanggil oleh pemimpin perusahaan dalam sebuah sedang yang membeberkan semua kebobrokan si pemuda dan kerugian-kerugian perusahaan akibat perbuatannya serta mulai saat itu ia dan adiknya dikeuarkan dari perusahaan.

Hikmah :

Banyak sekali jalan pintas yang menggoda kita untuk berbuat curang demi mencapai sebuah tujuan :

  • Seorang karyawan yang “bermanis-ria” di depan atasannya demi suatu tujuan dan sang atasan yang memberikan sebuah penilaian bagus untuk karyawan tersebut (dalam ilmu manajemen, ini disebut “Efek Hello”)
  • Seorang pedagang yang mencurangi timbangan atau ukuran barang dagangannya
  • Seorang Guru yang memberikan seluruh jawaban soal Ujian demi kelulusan anak didiknya agar dinilai sebagai guru yang sukses.
  • Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Tapi ketahuilah sebuah tujuan yang dicapai dengan jalan pintas hanya akan menghasilkan sebuah tujuan yang tidak hakiki ataupun nisbi.

Capailah tujuamu, Gapailah cita-citamu, dan raihlah semua angan-anganmu dengan jalan yang semestinya, jalan yang diridhoi Allah SWT dan jalan yang terhormat di mata manusia

Baca juga almahfuudhoot #1 disini ya…

Semoga bermanfaat

Salam Bloger Pendidik

Komentarnya dong...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s