Al Mahfudhoot (Part 4)


Man Qolla Shidquhu qolla shodiiquhu

Man Qolla Shidquhu qolla shodiiquhu Barang siapa sedikit jujurnya sedikit pula temannya

Sebagai seorang guru, kejujuran menjadi fokus utama saya untuk ditanamkan ke karakter siswa karena berdasarkan pengamatan saya tentang gejolak sosial masyarakat yang ada sampai dengan saat ini khususnya negara indonesia, sikap jujur sudah mengalami penurunan drastis, faktanya adalah kasus kerah putih (KKN, dll) yang notabene para pelakunya adalah orang-orang “berpendidikan” dan “akademisi atau eks akademisi”, kasus mereka mengambang tak terpecahkan karena kepintaran mereka menghindari kejujuran.

Flash back 2011, masih ingat kasus Ny. Siami? Masih ingat bagaimana Reaksi negatif yang ditampilkan warga menanggapi aksi Ny. Siami mengungkap praktek mencontek massal di SDN Gadel II/577 Tandes,Surabaya? Ini fakta lainnya yang menunjukkan adanya keanehan sosial. Ternyata kecurangan lebih dihargai sepanjang membuat senang atau sejalan terhadap kepentingannya.

“Ini aneh. Rakyat kita suka kebohongan dan kecurangan yang menyenangkan mereka, dalam hal ini agar anaknya lulus,” ujar mantan Rektor UGM, Sofian Effendi.

Sofian menyambut baik kelompok-kelompok masyarakat yang mendukung keberanian Ny. Siami. Tidak semua orang memiliki keberanian mengungkap sesuatu yang salah secara tulus dan ikhlas sebagaimana ditunjukkan Ny Siami.

“Menurut saya, Ny Siami punya moralitas. Semoga ini menjadi bahan introspeksi bagi kita semua,” ujar Sofian.

Kisah Siami bermula dari laporan buah hatinya, Alif, yang cukup cerdas. Saat Ujian Nasional (UN), Alif diminta gurunya untuk memberikan contekan pada teman-temannya. Sesampai di rumah, Alif mengadu kepada ibunya, seorang mantan buruh pabrik sepatu. Siami lalu mengadu ke kepala sekolah dan komite sekolah, namun tidak digubris.

Kasus ini lalu masuk mediamassasehingga menarik perhatian Walikota Surabaya. Kepala sekolah dan dua guru SD tersebut mendapat sanksi. Sedangkan warga Gadel marah besar pada Siami dan keluarganya dan menyebutnya sebagai “sok pahlawan” dan “tak punya hati nurani”.

Warga mendesak Siami minta maaf. Siami memenuhi tuntutan warga. Namun warga tetap marah dan mencaci keluarga itu. Warga juga mengusir mereka dari kampung Gadel. Akhirnya, Siami dan keluarga mengungsi ke keluarganya di Gresik. Simpatisan Siamipun berdatangan, lalu menghimpun dana untuk membangun sebuah rumah yang diberi nama “RUMAH KEJUJURAN”.

Miris rasanya membaca berita di atas, sayapun berpikir beberapa kali untuk menuliskan Al Mahfudhoot ke 4 ini, “Barang Siapa yang sedikit kejujurannya, sedikitlah temannya”, karena kenyataan di masyarakat telah membalikkan fakta Al Mahfudhoot yang ke 4 ini menjadi “Barang siapa sedikit kejujurannya, banyaklah pendukungnya”😉. Jangan-jangan Al Mahfuudhoot ke 4 ini akan menjadi bahan tertawaan saja oleh “para pendukung kebohongan”.

Saya bisa sedikit berani (sedikiiiit banget), karena saya yakin Al Mahfuudhot ke 4 ini masih berlaku di kalangan para pelaku bisnis, kejujuran adalah harga mati bagi mereka khususnya para pelaku bisnis kebangsaan/berdarah china, jangan pernah coba-coba untuk tidak berlaku jujur bila berada di kalangan mereka untuk urusan bisnis karena anda akan berjalan sendirian tanpa rekan bisnis di samping anda, walhasil usaha anda akan jatuh pelan-pelan tapi pasti sebab Konsumen/pemakai jasa/pembeli pun tak menyukai sikap ketidak jujuran yang ada pada sosok seorang pedagang/pelaku bisnis baik jasa ataupun barang.

Man Qolla Shidquhu qolla shodiiquhu

Semoga Bermanfaat

Salam Blog Pendidik

Komentarnya dong...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s