Monster Bernama KHITAN

Kisah heroik Seorang anak saat dikhitan

(Sebuah Kisah Nyata)

Cerita ini saya dedikasikan untuk tumbuh-kembang keponakanku tercinta (anak nomor dua dari kakak perempuanku yang juga nomor dua dari lima bersaudara) :

RAYHAN CONAN FERDION.

Dengan harapan ia tumbuh menjadi anak yang Sholeh, cerdas, berbakti kepada kedua Orang Tua, serta menjadi seorang pemimpin harapan bangsa kelak. Amin…

Conan dan Byan

Conan dan Byan

Kisah ini berawal dari keinginan keponakanku ini. Conan, begitu ia dipanggil oleh keluarga besar kami, mirip dengan nama seorang detective cilik dalam sebuah film kartun animasi, dan memang, nama Conan tersebut pemberian dari kakak perempuannya Alya Shavira Hewidz (panggil saja Vira) karena terinsfirasi film detective cilik tersebut.

Conan saat ini duduk di kelas dua SD Salman Alfarisi Bandung, semenjak ia naik kelas dua SD, dia mempunyai sebuah keinginan yang selalu diutarakan pada kedua Orang Tuanya : “Papi…Mami…kapan abang disunat pi…teman-teman abang satu kelas sudah disunat semua…tinggal abang yang belom…ayo pi…sunaaat…” ujarnya kepada kedua Orang Tuanya dengan bahasa dan tingkah yang sedikit manja seperti halnya tingkah seorang anak kecil, maklum…ia anak bungsu dan satu-satunya laki-laki, so…Papinya sangat sayang dengannya.

Tekad dan niat keponakan saya yang satu ini sudah sangat bulat. Pucuk dicinta ulampun tiba ada seorang saudara sepupunya Byan namanya yang ingin pula disunat, maka kakakku berniat mewujudkan keinginan anaknya tersebut pada masa liburan sekolah semester ganjil tahun ini (Semester I Tahun Ajaran 2011-2012).

dua buah Tumpeng untuk perayaan Khitan Conan

dua buah Tumpeng untuk perayaan Khitan Conan

Sabtu 31 Desember 2011 Tibalah waktu yang telah ditentukan, aktivitas dalam menyambut Hari bersejarah bagi dua orang anak Adam inipun dimulai, Panitiapun dibentuk dengan koordinator kakaknya sendiri Vira yang masih duduk di kelas 3 SMP, beberapa hidanganpun disiapkan mulai dari dua buah tumpeng (kuning dan putih), pempek, tak ketinggalan pula masakan spesial yaitu : Omlet (kalau tidak salah…hehehe…) dari kakak perempuan satu-satunya  yang sangat sayang kepadanya.

Sebelum saya masuk ke inti cerita, saya akan bercerita sedikit tentang Pusat Khitan Sumbawa yang terletak di Jalan Sumbawa No. 9 Bandung ini (sorry…agak melenceng sedikit ya …hitung-hitung tambah pengetahuan…), tapi tidak mengurangi esensi cerita inti yang menjadi tujuan utama saya, bahkan akan membantu dalam melengkapi cerita ini hingga menjadi utuh dan sempurna.

Pusat Khitan Sumbawa

Pusat Khitan Sumbawa

Pusat Khitan Sumbawa adalah sebuah tempat khitan lumayan terkenal di Bandung yang menerima jasa khitan Bayi, Anak, Remaja, dan Dewasa baik Muslim ataupun non Muslim, ditangani oleh Tim dokter berpengalaman dengan dua buah metode :

1.  Metode Cauter adalah sebuah metode modern dengan efek luka bakar. Umumnya masyarakat menyebutnya dengan istilah Lazer. Pendarahan yang ditimbulkan oleh metode ini sangat minim sehingga resiko infeksi lebih kecil.

Metode Cauter inilah yang dipilihkan kakakku untuk Conan

Terbukti aman dan tidak bermasalah pada ribuan pasien dari usia bayi, anak, remaja, dan dewasa. Semua kekhawatiran dan isu negatif akan metode ini tidak pernah terbukti di lembaga kami. Proses khitan lebih cepat, perawatan lebih mudah dan nyaman serta penyembuhan relatif cepat” menurut narasumber di sana. (ada yang tertarik…? Atau mau dua kali…? Hehehe…)

 Untuk metode cauter :

  • Pusat Khitan Sumbawa

    Pusat Khitan Sumbawa

    Pengantar boleh masuk ruangan operasi

  • Pengantar boleh mendokumentasikan operasi
  • Konsultasi dan Kontrol tiga hari pasca khitan gratis.
  • Pasien gemuk/obesitas harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter
  • Pasien dewasa harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter

2.  Metode Konvensional : Metode standard yang umum digunakan di klinik-klinik khitan dan rumah sakit.

Jika anda merasa nyaman dan tenang dengan metode ini, kami siap melayani anda dengan operator kami yang berpengalaman” masih menurut nara sumber yang sama.

Untuk metode konvensional :

  • Pengantar tidak boleh masuk ruangan operasi.
  • Pengantar tidak boleh mendokumentasikan operasi
  • Kontrol tiga hari pasca khitan gratis berupa konsultasi dan control
  • Pasien gemuk/obesitas tidak diterima
  • Pasien dewasa harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter

Ruangan Full AC. TV-Video (berguna mengalihkan perhatian pasien) dan kedap suara. Ruang Operasi berada di lantai dua, loket pendaftaran dan pembayaran di lantai satu. Ditambah ada sebuah masjid besar dalam kompleks pusat Khitan tersebut

Pasien diharuskan mendaftar terlebih dahulu paling lambat sehari sebelum khitan untuk mendapatkan jadwal. Sesuai pendaftaran Khitan/Sunat di Pusat Khitan Sumbawa, Conan dan Byan mendapat giliran masuk ruang operasi  pada pukul 18.30 WIB (Waktu Indonesia Bandung…hehehe…).

Sehari sebelum pelaksanaan khitan kakak perempuanku mengabarkan niat Conan untuk khitan kepada kedua Orang Tua kami, aku, istriku, dan anakku yang kebetulan kami pada saat itu sedang berlibur ke Bandung di rumah adikku, beliau mengharapkan kami untuk datang mendampingi anaknya saat khitan karena khawatir ada perubahan niat sehingga butuh bujukan dan dukungan moril dari kami baik kalimat nasehat ataupun tenaga bila Conan berontak saat pelaksanaan khitan, sekaligus sebagai pelipur lara menggantikan sosok papinya sebagai satu-satunya orang yang paling ia patuhi dan paling ia dengarkan nasehatnya, yang pada saat itu sedang berada di Semarang menjalankan tugas dari kantor tempat ia bekerja.

            Kekhawatiran kakak perempuanku ternyata sangat beralasan, benar saja, saat giliran Conan tiba dan iapun masuk ruangan dengan tenang, tapi…saat celananya ingin dilepas ia berteriak, menangis, dan menolak untuk disunat dengan alasan takut dan meminta supaya Byan sepupunyalah yang mendapat giliran pertama, padahal kakakku sudah menyusun skenario agar dialah yang mendapat giliran pertama agar tidak mendengar jeritan ataupun rintihan dari Byan sehingga bertambah keraguan dan bertambah ciut nyalinya, Kamipun berusaha membujuknya agar mau dikhitan duluan, tapi apa hendak dikata Conan menolak dengan gigih untuk dikhitan pada giliran pertama, dengan berpegangan erat pada kursi ia menolak untuk dibopong ke atas ranjang khitan, akhirnya Byanpun maju duluan.

            Saat Byan di dalam kamar khitan, sekali lagi kekhawatiran kakakku terbukti, Byan menjerit dan merintih kesakitan sehingga terdengar sayup-sayup sampai keluar ruangan, walaupun ruangan tersebut sudah dilapisi semacam lapisan kedap suara (katanya…) tapi kok suara jeritan dan rintihan Byan masih terdengar….??? (sayapun bingung???), akhirnya saya berinisiatif meminta petugas di ruang tunggu untuk menambah volume TV agar suara jeritan dan rintihan dari dalam ruangan tidak terdengar lagi dan berganti dengan suara TV, usahaku berhasil tapi suara jeritan dan rintihan Byan sudah sempat terdengar oleh Conan yang sedang duduk di sebelahku walaupun hanya sebentar, saya lihat Conan mencoba untuk acuh tak acuh terhadap suara yang ia dengar tadi dengan asyik bermain game dan video yang ada di telepon genggamnya.

            Byan keluar dari ruang khitan dengan memakai sarung pertanda telah terjadi sesuatu pada tubuh bagian bawah perutnya (“adik kecilnya” hehehe…), dia berjalan agak tertatih-tatih dengan senyum sambil menahan sakit. Dari cerita Kakak ipar perempuanku (Mami Byan), Byan menjerit saat disuntik untuk mengambil kulit yang harus dibuang saat khitan, kebetulan Byan agak gemuk (bukan obesitas) sehingga kelaminnya agak kecil membuat dokter kesulitan untuk mengambil “sela” yang akan dikhitan, maka ia disuntik sampai tiga kali agar kelaminnya agak membesar.

            Akhirnya giliran Conanpun tiba, kami semua serentak mengantarnya ke ruangan khitan, namun…kembali Conan menolak dan berpegangan erat pada kursi di ruang tunggu, kamipun berusaha sekuat tenaga melontarkan “rayuan maut” kami masing-masing :

  1. Kakakku :
  • Ayolah nak…nggak apa-apa cuma sebentar…di dalam ada film, nanti nonton aja filmnya gak usah lihat ke bawah kalo takut
  • Rayuan setengah mengancam : “Ayolah…kan udah dibeliin HP…percuma kalo gitu…udah…pulang aja kalo gitu biarin Mami malu sama keluarga, semua keluarga udah pada ngumpul di rumah…udah masak tumpeng, dll buat perayaan pulang dari sini…Dokternya udah mau pulang nih…”

Conan tetap menolak untuk masuk karena takut tapi juga menolak untuk diajak pulang dan tetap duduk berpegang erat pada kursi.

       2.  Aku :

  • Ayo Bang Onan…dulu juga Mama Andi dan Mama Ojan seperti ini nggak sakit kok cuma sakit sedikit kayak digigit semut(Mama = sebutan paman dari pihak ibu bagi kami orang Komering Ulu, sebuah suku/desa di Palembang)
  • Sampai-sampai aku mengeluarkan “jurus andalanku” do’a yang diajarkan kyaiku saat aku menjadi santri di PM Daarussalaam Gontor, sambil mengusap-usap punggungnya dan kepalanya persis seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita untuk menenangkan seorang anak saat sedang galau ataupun sedang tidak konsentrasi. Cara ini berhasil hanya sebatas membuat Conan tak menangis, tidak untuk rasa takutnya. (mungkin aku harus nyantri lagi nih…hehehe..)

        3.  Mama Ojan (Adikku) :

  • Iya udah sama mama Ojan kalo takut…ntar mama temenin di dalem.
  • Ya udahlah kalo gitu pulang aja kalo gak mau…

        4.  Ombay (panggilan nenek bagi orang komering) : “Oi, jadi laki-laki tu harus berani tau dak…” dengan bahasa Indonesia campuran Palembang-nya, lengkap dengan nadanya yang tegas namun mendidik.

Namun, apa hendak dikata empat orang “pejuang” kita semua gagal dalam meluluhkan hati dan ketakutan Conan terhadap makhluk yang bernama KHITAN. Akhirnya kami membujuknya untuk turun ke lantai satu dengan maksud membatalkan pendaftaran khitan, butuh waktu sekitar 5 – 7 menit menunggu Conan mengikuti kami turun ke bawah. Sayapun memutuskan untuk melaksanakan shalat maghrib dan meninggalkannya bersama keluarga yang lain.

Selesai sholat, saya melihat kakakku sudah di depan meja pendaftaran untuk membatalkan administrasi yang telah ia bayar

“udah kita pulang ya…mau gak?” ujarnya memastikan keinginan putranya.

“gak mau…” Conan Menimpali

“terus gimana? Jadi mau masuk?” seru kakakku

“gak mau…” Kembali Conan menimpali

“jadinya gimana nak…pulang gak mau, masuk ke ruangan gak mau, bingung mami…” kata kakakku

Dari dialog tersebut, aku menangkap keanehan pada diri Conan yang pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa Anak ini sebenarnya mau dikhitan tapi rasa takutnya sudah terlalu besar sehingga menolak untuk masuk ruangan khitan, di lain hal dia juga takut dan malu untuk pulang dalam keadaan belum berkhitan karena seluruh keluarga dari Mami dan Papinya telah berkumpul siap merayakan Hari yang sangat bersejarah bagi dirinya.

 “anak ini sedang berada pada dua pilihan pahit dalam hidupnya, dengan usianya yang begitu muda dia belum mampu mengambil sikap secara cepat karena mungkin ini pengalaman pertamanya menghadapi masalah serumit ini, dia butuh waktu…” ujarku dalam hati.

Setelah beberapa bujuk rayu dan “doktrin” yang kembali dilancarkan kakakku, akhirnya Conan bersedia kembali naik ke atas menuju ruang khitan, dan benar saja dia berani masuk dan duduk sebentar pada sofa yang disediakan sebelum naik ke atas ranjang khitan, saat celananya akan dilepas baru sampai lutut kembali ia berkata “takut…takut…” kembali kami keluar ruangan dengan tangan hampa, kulihat kakakku dengan sedikit kesal mengajak Conan turun ke bawah tapi ia tetap duduk di bangku ruang tunggu hingga kakakku berkata kepada kami “udah batalin aja, pulang ajalah semua”, kamipun beranjak meninggalkan ruangan menuju mobil masing-masing untuk pulang ke rumah tempat berkumpul seluruh keluarga.

Dalam perjalanan pulang ke rumah kami (saya, istriku, ibuku, ayahku, anakku, dan adik iparku) membahas masalah Conan sampai dengan cerita nostalgia tentang khitanku dan adikku yang bersamaan pada saat aku duduk di kelas 5 SD dan adikku kelas 4 SD. Tak terasa kamipun telah sampai di rumah tempat berkumpul, obrolanpun berlanjut dengan saudara-saudaraku yang lain, sampai pada akhirnya obrolan kami terhenti oleh nada panggilan pada HP-ku, ternyata dari kakakku (Mami Conan) segera kutekan tombol untuk menjawab panggilannya :

“Assalaamu’alaikum, yo yuk…” kataku dalam bahasa Palembang

“Ndi Conan sudah dikhitan, akhirnya dia mau saat kalian pulang, sekarang kau balek lagi ke sini soalnya ayuk butuh bantuan buat gendong dia” ujar kakakku terdengar senang dari nada bicaranya

“Alhamdulillah…iyo kami kesano” ucapku

            Tanpa berpikir panjang lebar lagi, aku dan adik iparkupun meluncur kembali menuju pusat Khitan Sumbawa, akupun kembali terlibat obrolan tentang perubahan drastis keputusan yang diambil Conan, ketika mobil kami tiba di halaman parkir Pusat Khitan terlihat Conan telah memakai sarung persis seperti Byan saat selesai khitan, didampingi kakakku dan Yang Mi menuju ke mobil, hampir saja kita “berselisih jalan” bila sampai dalam dua atau tiga menit lagi. Sayapun bergegas turun mendekati mereka sambil berkata pada Conan “hebat ! hebat ! begitulah anak laki-laki harus berani mengambil sebuah keputusan” lalu mencium pipinya sambil tak henti mengucapkan kata SELAMAT Ya  Bang…!

Monster Khitan

Monster Khitan

Akupun penasaran dengan peristiwa dan momen yang aku lewatkan saat Conan akhirnya mampu menaklukkan “Monster KHITAN” yang sempat menjadi momok menakutkan bagi dirinya, akupun bertanya pada kakakku :

“mak mano ceritonyo jadi galak tu yuk…?” tanyaku

“waktu kalian pulang, kita sudah mau pulang, di dalam mobil, ayuk omongke ke dio, Nan…seorang pemimpin itu harus tegas kalau A ya A, Kalau “nggak” ya “nggak” kalau “iya” ya “iya” Timpal kakakku

Seakan terpecut dan mendapatkan suntikan energi yang luar biasa dari kata-kata yang terlontar dari mulut maminya, Conan dengan langkah pasti tanpa disuruh-suruh lagi langsung turun dari mobil, menaiki anak tangga menuju lantai dua dan masuk ke ruangan khitan. Aku sempat merinding mendengar cerita kakakku. “luar biasa…hebat…Conan 15 menit yang lalu terlihat merengek-rengek ketakutan layaknya anak kecil berubah menjadi seorang pemimpin walaupun hanya sebatas pemimpin bagi dirinya sendiri” ucapku dalam hati

Pesan Buat Keponakanku yang telah mampu memimpin dirinya, dan telah mampu mengatasi ketakutannya :

  •  Kullukum roo‘in wakullukum mas uulun  ‘an ro’iyyatihi

Setiap kita adalah seorang Pemimpin dan setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya

  • Laki-laki pantang menyerah !  contoh di sekelilingmu banyak sekali, Yang Pi, Akas, Akas Hasan, Papimu, Papa Toton, Mama Udin, Mama Andi, Mama Ojan, Mama Rona, Mama Roni, dll.

Mama Andy bangga mempunyai keponakan sepertimu, Salut untukmu Abang Onan dengan usia yang masih sangat muda kamu mampu mengambil sikap dan menentukan sebuah pilihan dari dua pilihan pahit yang kedua-duanya tidak mengenakkan. Doa Mama Andy untukmu agar kelak di kemudian hari engkau menjadi seorang PEMIMPIN bagi Agama dan Bangsa kita. Amin…

2 thoughts on “Monster Bernama KHITAN

  1. seneng banget babg onan mau disunat. mdh2an banyak bang onan yang lain yg disunat tanpa rasa takut. hidup bang onon….

Komentarnya dong...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s