Kegagalan dan keberhasilan Program RSBI serta Pendidikan dalam Pandangan Sir Sayyed Ahmad Khan (1817-1898

Sir Sayyed Ahmad Khan yang hidup pada era thn. 1817-1898, adalah tokoh pembaharu yang berpendirian bahwa untuk mengatasi penderitaan, umat Islam tidak perlu ambil bagian dalam politik praktis, sebelum belajar ilmu pengetahuan modern terlebih dahulu.

Dalam pidatonya yang disampaikan dalam Konfrensi Pendidikan Islam pada tanggal 27 Desember 1886, Sir Sayyed mengatakan, sementara kalangan Umat Islam berpikiran bahwa masalah yang dihadapi Umat Islam India akan terpecahkan lewat politik, saya tidak sependapat dengan pendirian ini. Akan tetapi saya percaya bahwa penderitaan rakyat India akan terpecahkan lewat pendidikan dengan mencontoh model pendidikan barat.

Sir Sayyed Ahmad Khan mencoba untuk mengajak para ulama India untuk mempelajari ilmu pengetahuan barat lewat karya-karya terjemahan dari buku-buku berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Urdu. Untuk kepentingan tujuan tersebut, Sir Sayyed mendirikan Scientific Society (Masyarakat Ilmiah) pada tahun 1864, yang kemudian dipindahkan ke Aligart. Masyarakat Ilmiah ini gemar menterjemahkan literatur berbahasa Inggris ke dalam Bahasa Urdu. Namun, tidak lama kemudian Sir Sayyed merubah pikiran dan berkeyakinan bahwa, Umat Islam tidak akan maju dalam pendidikan tanpa mempelajari Bahasa Inggris dan bahasa-bahasa bangsa Eropa lainnya (Persis seperti RSBI) yang sedang gencar-gencarnya saat sekarang ini. Sedangkan pada saat itu, kaum Muslimin India sedang giat-giatnya menentang pemakaian Bahasa Inggris di kalangan Muslim terpelajar yang tergabung dalam sebuah perkumpulan yang disebut dengan The British Indian Association (perkumpulan Masyarakat India-Inggris) yang juga didirikan Sir Sayyed pada tahun 1866.

Perkumpulan ini didirikan bertujuan untuk melindungi hak-hak Umat Islam, di samping sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada anggota parlemen Inggris. Bahkan lewat asosiasi ini pula sebuah Petisi yang berisi proposal untuk mendirikan sebuah universitas pribumi diajukan ke parlemen, di sana disebutkan bahwa para tokoh Muslim India menginginkan diajarkannya sain barat dengan bahasa Urdu. Dalam petisi itu pula disebutkan tentang positifnya usaha Inggris dalam mengembangkan pendidikan barat dengan medium Bahasa Inggris di bumi India. Namun, dikatakan bahwa mayoritas masyarakat India belum siap untuk memanfaatkan kesempatan pendidikan barat tersebut, nah oleh karena itu, bila pendidikan pribumi tidak dengan bahasa ibu, maka kemajuan dan pembangunan ilmu pengetahuan tidak akan dicapai oleh rakyat India. Dijelaskan lebih lanjut bahwa usaha pemerintah Inggris dalam pendidikan tidak perlu dihentikan dan atau dikurangi. Akan tetapi diusulkan agar sebuah departemen studi ketimuran (Oriental Section) pada Universitas Calcutta dengan medium Bahasa Urdu segera didirikan dengan standar yang sama seperti fakultas lain yang memakai medium Bahasa Inggris atau sebagai alternatif, sebuah universitas terpisah hendaknya segera dirintis di Propinsi Barat Laut (Pesyawar) dengan memakai medium bahasa Urdu.

Sementara itu, ia juga menawarkan ide-idenya tentang pendidikan alternatif bagi generasi muda Muslim India dengan mengatakan :
“Mendidik anak-anak bangsawan dan anak-anak ‘kelas atas’ (kaya. Red) akan sangat besar manfaatnya. Pada usia menjelang sepuluh tahun, mereka harus dipisah dari kehidupan keluarga, untuk dididik secara khusus di bawah pengawasan disiplin yang ketat, untuk mewujudkan cita-cita ini, perlu membangun lokasi asrama dekat sebuah kota kecil yang udara disekelilingnya memenuhi syarat. Dan taman-taman indah dibangun di sekitar asrama-asrama tersebut. Bagi para siswa dilarang mempunyai pembantu, agar terlatih hidup mandiri. Segenap siswa diwajibkan menunaikan shalat wajib berjamaah. Dan setelah subuh mereka diberi pelajaran Al Quran. Jadwal kegiatan serta jam makan diatur menurut disiplin. Gedung-gedung yang dipakai untuk kelas dibangun berdekatan dengan asrama. Dan lembaga pendidikan tersebut akan diberi nama dengan Anglo Muhamadan College atau dalam Bahasa Arabnya Madrasatul Ulum (bila diperhatikan konsep lembaga pendidikan ini sama persis dengan hampir seluruh pesantren di Indonesia).

Dalam proyek lembaga pendidikan seperti inilah Sir Sayyed menawarkan pendidikan alternatif bagi putra-putra bangsawan India agar menjadi kader bagi umat di masa mendatang. Lembaga pendidikan yang direncanakan di atas terdiri dari tiga school, yaitu : English school, Urdu School, dan Arabic and Parsian School.
Pada English School, memakai medium Bahasa Inggris baik pelajaran umum maupun kesenian, dan di sini tidak ada pelajaran Agama yang masuk kurikulum. Akan tetapi segenap siswa diwajibkan mempelajari bahasa kedua, umumnya Bahasa latin dan Bahasa Urdu. Sedangkan pada Bahasa Arab yang diajarkan hanya pelajaran Agama dan Bahasa Arab. Para siswanya juga wajib mempelajari bahasa kedua, baik Inggris, Persi atau Bahasa Urdu.

Berbicara mengenai pendidikan Agama pada Aligart Colledge, Sir Sayyed mengingatkan bahwa beberapa kalangan tertentu merasa khawatir berkenaan dengan pendidikan model barat yang didirikan oleh Sir Sayyed akan melahirkan sarjana-sarjana naturalis yang tidak concern dengan ajaran agamanya. Kekhawatiran tersebut segera dijawab oleh Sir Sayyed dengan mengingatkan bahwa ia telah menentukan beberapa orang alim untuk dijadikan pembimbing bagi para pelajar, bahkan shalat lima waktu selalu dilaksanakan dengan berjamaah, disamping menanamkan aqidah Islamiyah pada segenap pelajar.

Mengenai pendidikan agama, Sir Sayyed menolak gagasan yang diajukan tokoh-tokoh masyarakat Muslim India yang mengatakan bahwa Teologi, Fiqh, Ushul Fiqh dan Pelajaran Hadits harus dimasukkan ke dalam kurikulum Aligart secara formil, supaya bisa menghindari efek negatif yang diakibatkan pendidikan ala barat, sehingga para pelajar tidak terjerumus ke dalam jurang atheisme. Usulan tersebut ditanggapi oleh Sir Sayyed dengan mengatakan bahwa buku-buku tentang ilmu-ilmu agama tersebut tidak akan mampu menanggulangi akibat-akibat yang dikhawatirkan tadi, bahkan menurutnya apabila literatur tentang ilmu agama di atas diajarkan bersamaan dengan sain barat, maka di sana akan terjadi kontradiksi dan kekaburan bagi para pelajar. Dengan demikian malah akan membuka kesempatan lebih luas bagi para pelajar untuk terperangkap dalam atheisme.

Sir Sayyed mempunyai keyakinan bahwa, selain Al Quran, kitab-kitab tentang ilmu keislamam penuh dengan kekeliruan dan kesalahan, termasuk juga Kitab Hadits. Orang-orang yang mempunyai gagasan di atas tadi, kata Sir Sayyed, berpikiran abad pertengahan, yaitu ketika filsafat Yunani merusak otak sebagian orang muslimin terpelajar. Sehingga sebagai perbaikan kala itu para ulama mewajibkan setiap penuntut ilmu untuk mempelajari dasar-dasar Agama Islam. Namun, demikian bukan berarti bahwa apa yang dilakukan oleh Para Ulama dan Cendekiawan Muslim abad pertengahan itu bisa dilakukan oleh yang hidup pada zaman sekarang, Para Ulama dan Cendekiawan Muslim Abad pertengahan mampu menulis untuk merekonsiasi filsafar Yunani dengan ajaran Islam, atau untuk membela dan menangkis pengaruh filsafat Yunani itu.

Pada masa sekarang, kita bertatap muka, face to face dengan filsafat dan sain barat, maka sudah barang tentu jika ulama dan para cendekiawan kita betul-betul ingin menghindari pengaruh negatif dari sain barat, maka mereka harus berbuat sama seperti ulama abad pertengahan, yaitu menjawab tantangan filsafat dan sain barat, atau merekonsiliasikannya dengan ajaran Agama Islam.

Komentarnya dong...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s