Menjawab Persoalan Manajemen

Masalah 1

Pengangguran

Pengangguran

Anda seorang perusahaan besar. Anda mempunyai seorang adik laki2 yang menganggur dan keluarganya menjadi tanggungan anda. Anda memiliki lowongan kerja yang cocok untuk adik anda tetapi ada 2 pelamar lain yang juga cocok untuk mengisi lowongan tersebut namun memiliki kualifikasi lebih baik dibandingkan dengan adik anda. Anda memiliki sebuah dilemma:

Ibunda anda mendorong keras agar anda menerima adik anda dan lain pihak kalau anda menolong adik anda maka beban hidup anda berkurang. Tetapikalau anda menerima adik anda, maka hal tersebut bertentangan dengan tujuan mutu perusahaan yang ingin memperkerjakan orang2 yang memiliki kualitas terbaik. Penggiat2 non diskriminasi pasti akan mencela anda karena 2 orang pelamar yang berkualitas lebih baik tersebut  berasal dari golongan minoritas di tempat anda, pasti reputasi anda di tempat anda bekerja akan buruk di mata Manajemen.

Silahkan membuat keputusan yang benar menurut anda dan berikan alasan2nya.

(Bahas dari sisi teori maupun praktek)

Jawab :

Saya akan memilih orang di luar keluarga saya karena tindakan memilih adik saya sangat bertentangan dengan perusahaan yang ingin

Cegah KKN

Cegah KKN

mengedepankan mutu juga bertentangan dengan Hukum dan Undang-undang Negara yang mengatur tentang KKN.

Wabah korupsi, kolusi dan nepotisme yang menggerus moral bangsa dan negara dalam tindakannya memanipulasi data dan fakta mengenai keadaan sebenarnya dalam konteks penyimpangan keadilan terhadap norma dan nilai yang telah dikodifikasi ke dalam Undang-Undang yang bersifat kovensional. Ketiga jenis wabah ini telah menempati ruang di pikiran masyarakat, sehingga tidak jarang pula tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat juga banyak meskipun tidak semua menyangkut korupsi. Korupsi masih dipandang oleh masyarakat sebagai kejahatan kerah putih yang berkonotasi dengan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang penting atau pejabat di birokrasi.

Di lingkungan masyarakat kolusi tidak begitu dianggap penting, sama dengan korupsi, kolusi juga dipandang sebagai kejahatan kerah putih dalam hal transaksi perebutan tender bisnis atau yang lebih ekstrim dari kolusi adalah usaha untuk melakukan tindakan yang sangat tidak terpuji, seperti penculikan dan pembunuhan. Ada kalanya pada kasus kolusi memang selalu melibatkan orang-orang penting karena dengan adanya keterlibatan orang-orang penting atau pejabat tinggi didalamnya maka aksi kolusi semakin tidak nampak ke permukaan, bahkan dikaburkan dengan tindakan pengalihan isu.

Nepotisme juga merupakan salah satu wabah yang kronis, terutama di dalam dunia bisnis. Nepotisme lebih berpihak pada orang-orang terdekat dalam arti lebih mengutamakan kroni dan keluarganya. Kasus nepotisme dalam dunia bisnis terutama didalam penerimaan pekerja baru, lebih sering terjadi, karena sulitnya untuk memasuki lapangan kerja dengan persaingan diantara pelamar lainnya dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Dalam perusahaan tindakan nepotisme dianggap merugikan karena seseorang yang memiliki hubungan dengan pegawai didalam suatu perusahaan tersebut bisa langsung bekerja tanpat harus mengajukan lamaran pekerjaan atau walaupun dengan membuat lamaran pekerjaan itu hanya sebagai alasan formalitas semata. Sedangkan dari sekian banyaknya pelamar pada bidang pekerjaan tersebut ada juga yang lebih memiliki kemampuan dan pengalaman yang jauh lebih baik tetapi justru diabaikan.

Cegah KKN di Lingkungan Anda

Cegah KKN di Lingkungan Anda

Lalu apakah korupsi, kolusi dan nepotisme sudah dapat dikurangi atau justru masih menjadi salah satu solusi untuk mempertahankan kesejahteraan pribadi dengan cara-cara yang inkonstitusional atau sengaja untuk mendiskreditkan pihak lain dengan alasan yang tidak rasional. Dengan berbagai alasan untuk menghapuskan korupsi, kolusi, dan nepotisme maka semua tindakan itu akan menjadikan negara ini bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga berjalannya kehidupan berbangsa dan bernegara semakin baik dan pembangunan dapat terus berjalan.

Masalah 2

Seorang klerek di bagian pengiriman barang sangat cekatan dan cerdas didalam melakukan pekerjaannya. Karirnya melesat cepat

Pemimpin Otoriter

Pemimpin Otoriter

hingga akhrnya dia dipromosikan menjadi Manajer di Departemen pengiriman barang. Setelah menjadi manajer sepertinya segala sesuatunya runtuh pelan2. Dalam banyak hal anak buahnya tidak setuju dengan cara manajer baru ini mengatur bagaimana menyelesaikan pekerjaan2 mereka. Anak buahnya memiliki banyak ide, masalah danperasaan pribadi didalam menyelesaikan pekerjaan2 mereka tetapi Manajer baru ini ngotot agar segala sesuatunya harus dikerjakan dengan cara yang dia sukai. Anak buahnya menjadi kurang serius dalam bekerja dan sepertinya mereka kehilangan semangat untuk bekerjaa.

Silahkan berkomentar apa yang terjadi dengan manajer baru ini dan apa yang seharusnya dia kerjakan.

Bahas dari segi teori dan praktek.

Jawab :

Klerek tersebut adalah contoh dari SDM yang tidak menerapkan EMPOWERMENT, bisa dikatakan dia adalah SDM Tradisional. Seharusnya Klerek tersebut melaksanakan MBWA (MAnajemen by wondering Around/Manajemen By Walking Around) di dalam MBWA tersebut seorang manajer harus turun ke bawah dan berdiskusi dengan bawahannya tentang segala masalah yang dia hadapi dalam pekerjaannya, dengan demikian terjadilah saling pengertian antar manajer dan bawahannya.

Klerek tersebut harusnya melibatkan bawahannya (EMPOWERMENT) dalam sebuah kebijakan atau keputusan dalam melaksanakan pekerjaan di perusahaan tersebut, sehingga bawahan merasa diberdayakan dan dirangkul dalam memajukan perusahaan, maka dari perasaan tersebut akan timbullah rasa memiliki perusahaan, sense of belonging yang kuat hanya ada pada karyawan yang telah dilibatkan dalam urusan memajukan perusahaan.

empowerment-wheel-final

empowerment-wheel-final

 Ciri-ciri Karyawan telah diberdayakan

  • Mengambil Inisiatif. Karyawan yang telah diberdayakan akan mengambil inisiatif dalam situasi ambigu dan menentukan masalah-masalah dengan cara yang memungkinkan analisis lebih lanjut dan mengarah pada tindakan positif. Karyawan yang tidak diberdayakan akan menunggu seseorang di otoritas tertentu untuk mendefinisikan masalah dan memulai tindakan.
  • Mengidentifikasi Peluang. Karyawan yang telah diberdayakan akan mengidentifikasi peluang perbaikan dalam masalah yang timbul. Karyawan yang tidak diberdayakan dapat mengatasi masalah langsung tetapi gagal untuk pergi lebih dari sekedar pemecahan untuk mengidentifikasi cara untuk memperbaiki proses dan mencegah agar tidak terjadi di masa depan.
  • Berpikir kritis. Karyawan yang telah diberdayakan merasa bebas untuk berpikir kritis, pertanyaan status quo, dan asumsi tantangan. Karyawan yang tidak diberdayakan lebih mungkin untuk mengambil informasi pada nilai nominal tanpa pengujian validitasnya.
  • Membangun Konsensus. Karyawan yang telah diberdayakan membangun konsensus di antara semua pemangku kepentingan dalam kelompok dan di seluruh wilayah fungsional. Karyawan yang tidak diberdayakan lebih cenderung untuk hanya melihat ke otoritas yang lebih tinggi untuk mandat keputusan.

Semoga Bermanfaat…

Salam Blogger Persahabatan

http://www.kompasiana.com/4rbain

Komentarnya dong...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s